Pilates semakin identik dengan gaya hidup perempuan modern karena menawarkan kombinasi latihan kekuatan, fleksibilitas, kontrol tubuh, dan mind-body connection dalam satu sesi. Sebuah penelitian terhadap anggota pusat Pilates menunjukkan bahwa 74,7% respondennya adalah perempuan, sementara laporan ClassPass juga menempatkan Pilates sebagai workout yang paling banyak dipesan secara global pada 2024. Jadi, tren Pilates bukan sekadar konten aesthetic yang lewat di TikTok atau Instagram, tetapi bagian dari perubahan cara banyak orang memandang olahraga.
golfbz – Angka 74,7% memang cukup eye-catching, tetapi konteksnya perlu dipahami dengan tepat. Sebuah penelitian mengenai kualitas layanan dan kepuasan pelanggan pusat Pilates melibatkan 308 responden, terdiri dari 230 perempuan atau 74,7% dan 78 laki-laki atau 25,3%. Dengan kata lain, angka tersebut menunjukkan dominasi perempuan dalam sampel anggota pusat Pilates yang diteliti, bukan berarti 74,7% dari seluruh perempuan di dunia memilih Pilates.
Menariknya, dominasi perempuan tersebut terasa relate dengan apa yang terlihat dalam lifestyle urban hari ini. Scroll media sosial sebentar saja dan konten tentang reformer Pilates, Pilates outfit, grip socks, sampai morning Pilates routine cukup mudah ditemukan. Pilates seakan punya paket lengkap yang cocok dengan kebutuhan perempuan modern: olahraga, wellness, dan lifestyle dalam satu experience.
Tren tersebut juga didukung oleh data industri kebugaran global. Dalam laporan ClassPass 2024, Pilates menjadi jenis workout yang paling banyak dipesan secara global untuk tahun kedua berturut-turut. ClassPass bahkan mencatat bahwa pengguna yang memesan kelas Pilates merupakan kelompok yang paling mungkin kembali memesan kelas Pilates lain pada minggu yang sama.
Kenapa Pilates Banyak Diminati Wanita?
Salah satu alasan Pilates menarik adalah pendekatannya yang berbeda dibandingkan workout berintensitas tinggi. Pilates merupakan latihan mind-body yang menekankan kekuatan, stabilitas core, fleksibilitas, kontrol otot, postur, dan pernapasan. Jadi, seseorang tidak hanya dituntut bergerak, tetapi juga aware terhadap bagaimana tubuh melakukan setiap gerakan.
Konsep tersebut terasa relevant dengan tren wellness yang semakin holistic. Banyak orang sekarang tidak sekadar mengejar berapa banyak kalori yang terbakar setelah workout, tetapi juga mempertimbangkan mobility, posture, strength, recovery, dan bagaimana tubuh terasa setelah latihan. Dalam konteks tersebut, Pilates punya positioning yang cukup kuat karena beberapa komponen kebugaran dilatih secara bersamaan.
Pilates juga tidak selalu identik dengan mesin reformer yang sering muncul di media sosial. Latihan ini dapat dilakukan menggunakan body weight melalui mat Pilates maupun menggunakan berbagai equipment untuk memberikan resistance dan variasi gerakan. Artinya, ada ruang untuk menyesuaikan metode latihan dengan kebutuhan, pengalaman, fasilitas, dan kemampuan masing-masing individu.
Salah satu misconception paling common adalah menganggap Pilates sebagai olahraga yang santai karena gerakannya terlihat pelan. Faktanya, gerakan dengan tempo terkontrol justru dapat menuntut konsentrasi dan kontrol otot yang cukup intens. Anyone yang pernah mencoba mempertahankan posisi tertentu sambil menjaga core tetap engaged mungkin paham bahwa slow movement tidak otomatis berarti effortless.
Karakter low impact juga menjadi salah satu daya tariknya dalam lanskap fitness modern. ClassPass melaporkan reservasi latihan kategori low-impact meningkat 109% sepanjang 2024, bersamaan dengan Pilates yang mempertahankan posisi sebagai workout paling banyak dipesan. Data tersebut setidaknya memberikan gambaran bahwa minat terhadap latihan yang lebih accessible sedang berkembang.
Namun, low impact sebaiknya tidak diterjemahkan sebagai latihan yang selalu cocok untuk semua orang tanpa penyesuaian. Tingkat kesulitan Pilates dapat berubah berdasarkan exercise selection, resistance, durasi, equipment, dan kondisi fisik peserta. Karena itu, beginner tetap perlu memahami teknik dasar dan idealnya mendapat arahan yang tepat sebelum mengejar gerakan yang terlihat impressive di social media.
Di balik popularitasnya, Pilates memiliki basis penelitian yang cukup menarik. Meta-analisis terbaru pada perempuan dewasa menemukan peningkatan signifikan pada fleksibilitas sit-and-reach setelah program Pilates terstruktur, selain perubahan pada beberapa parameter komposisi tubuh. Namun, peneliti juga mengingatkan adanya heterogenitas antarpeneletian sehingga hasilnya perlu dibaca secara proporsional, bukan sebagai guarantee untuk setiap individu.
Systematic review lain yang berfokus pada kesehatan dan well-being perempuan juga melaporkan berbagai potensi manfaat. Literatur yang dianalisis menunjukkan Pilates dapat berkaitan dengan peningkatan fleksibilitas, strength, mobility, balance, dan beberapa aspek kualitas hidup pada kelompok perempuan dengan kondisi kesehatan tertentu. Meski demikian, peneliti menekankan perlunya penelitian berkualitas tinggi tambahan untuk memperkuat kesimpulan pada berbagai outcome kesehatan.
Hal ini penting karena dunia wellness sering kali terlalu cepat mengubah hasil penelitian menjadi bold claim. Pilates memang promising, tetapi bukan magical workout yang otomatis memberikan seluruh manfaat hanya dalam beberapa sesi. Konsistensi, program latihan, kondisi awal seseorang, pola makan, tidur, dan aktivitas fisik lainnya tetap memainkan peran besar terhadap hasil akhir.
Pilates dan Core Strength yang Jadi Daya Tarik Utama
Kalau ada satu kata yang hampir selalu muncul ketika membahas Pilates, jawabannya adalah “core”. Banyak gerakan Pilates membutuhkan stabilisasi area tengah tubuh agar anggota tubuh lain dapat bergerak secara terkontrol. Fokus inilah yang membuat sensasi latihan Pilates terasa berbeda dari sekadar melakukan repetisi gerakan sebanyak mungkin.
Namun, Pilates tidak harus diposisikan sebagai metode yang selalu superior dibandingkan olahraga lainnya. Sebuah systematic review yang membandingkan Pilates dengan modalitas latihan lain menemukan bukti berkualitas rendah hingga sangat rendah bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan untuk beberapa outcome seperti kekuatan, keseimbangan, dan fleksibilitas. Jadi, pertanyaan terbaik bukan selalu “Pilates lebih bagus atau gym?”, tetapi “latihan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan dan bisa dilakukan secara konsisten?”.
Perspektif tersebut jauh lebih realistic untuk perempuan yang sedang membangun fitness routine. Ada orang yang enjoy angkat beban, ada yang suka running, sementara lainnya merasa lebih connected dengan Pilates atau yoga. The best workout pada akhirnya adalah latihan yang aman, sesuai tujuan, cukup menantang, dan sustainable dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak bisa dimungkiri bahwa popularitas Pilates hari ini juga mendapat boost besar dari social media. ClassPass secara spesifik menyebut strong social media presence dan devoted following sebagai faktor yang mendukung popularitas Pilates pada 2024. Artinya, Pilates berhasil bergerak dari sekadar metode latihan menjadi bagian dari kultur wellness digital.
Visual Pilates memang sangat social-media friendly. Studio minimalis, reformer machine, matching activewear, grip socks, dan gerakan yang terlihat graceful membuat olahraga ini gampang dikemas menjadi aspirational content. Buat sebagian audiens, first impression terhadap Pilates bahkan mungkin datang dari Instagram Reels atau TikTok sebelum akhirnya mencoba kelas secara langsung.
Di satu sisi, fenomena ini positif karena membuat lebih banyak orang tertarik untuk aktif bergerak. Di sisi lain, aesthetic jangan sampai menjadi standar utama dalam menilai kualitas olahraga atau tubuh seseorang. Pilates tetap merupakan aktivitas fisik, bukan requirement untuk punya “Pilates body”, outfit tertentu, atau lifestyle yang terlihat expensive.
Kenapa Pilates Cocok dengan Lifestyle Perempuan Urban?
Perempuan urban sering menghadapi jadwal yang cukup packed, mulai dari pekerjaan, commuting, social life, sampai berbagai tanggung jawab personal. Karena itu, bentuk olahraga yang memberikan pengalaman terstruktur sekaligus terasa seperti dedicated me-time memiliki daya tarik tersendiri. Pilates masuk ke ruang tersebut dengan menawarkan sesi yang membutuhkan fokus pada gerakan dan pernapasan.
Ada juga aspek komunitas yang membuat kelas studio terasa appealing. Berlatih dalam kelompok kecil atau dengan instructor menciptakan experience berbeda dibandingkan workout sendirian di rumah. Bagi sebagian orang, jadwal kelas yang sudah ditentukan bahkan membantu membangun accountability karena sesi olahraga masuk ke kalender layaknya appointment lainnya.
Meski demikian, Pilates tidak harus selalu dilakukan di boutique studio dengan biaya premium. Mat Pilates memungkinkan latihan dilakukan dengan perlengkapan yang jauh lebih sederhana, bahkan beberapa gerakan menggunakan berat badan sendiri. Jadi, tren reformer boleh saja terlihat fancy, tetapi prinsip Pilates sebenarnya jauh lebih luas daripada satu jenis equipment.
Apakah Pilates Bisa Membantu Kesehatan Mental?

Pilates juga menarik karena membawa elemen konsentrasi dan mind-body awareness ke dalam aktivitas fisik. Systematic review dan meta-analysis tahun 2026 terhadap 32 studi dengan total 1.264 peserta menemukan indikasi manfaat terhadap beberapa outcome psikologis dan kualitas hidup, meskipun hasil keseluruhannya kompleks dan heterogenitas antarstudi cukup tinggi. Temuan ini berarti potensi manfaat psikologis ada, tetapi tidak tepat jika Pilates dipromosikan sebagai solusi tunggal untuk persoalan kesehatan mental.
Dalam praktiknya, sesi yang meminta seseorang memperhatikan napas, alignment, dan gerakan memang dapat menciptakan break dari ritme sehari-hari yang serba cepat. Selama beberapa puluh menit, fokus berpindah dari notification dan deadline menuju bagaimana tubuh bergerak. That kind of pause dapat menjadi salah satu alasan mengapa sebagian orang merasa Pilates memberikan experience berbeda dari olahraga yang hanya mengejar angka.
Tetapi olahraga tetap bukan pengganti diagnosis maupun penanganan profesional ketika seseorang mengalami masalah kesehatan mental. Pilates lebih tepat ditempatkan sebagai salah satu bagian dari healthy lifestyle dan aktivitas fisik rutin. Pendekatan semacam ini membuat manfaatnya tetap meaningful tanpa jatuh ke dalam klaim wellness yang terlalu exaggerated.
Mat Pilates atau Reformer Pilates, Pilih Mana?
Untuk beginner, pertanyaan “mat atau reformer?” hampir selalu muncul. Mat Pilates menggunakan berat tubuh sebagai salah satu sumber resistance utama, sedangkan reformer menggunakan apparatus dengan sistem spring dan berbagai komponen yang memungkinkan resistance serta support disesuaikan. Keduanya tetap berangkat dari prinsip kontrol gerakan, stabilitas, pernapasan, dan konsentrasi.
Pilihan terbaik sangat bergantung pada tujuan, budget, akses studio, pengalaman, dan preferensi personal. Reformer dapat menawarkan variasi resistance dan pengalaman latihan yang berbeda, sedangkan mat Pilates lebih accessible karena bisa dilakukan tanpa mesin besar. Tidak perlu merasa satu versi automatically lebih legitimate daripada versi lainnya.
Bagi pemula, kualitas teknik justru lebih penting daripada mengejar kelas paling advanced. Memahami breathing, neutral alignment, pelvic control, dan bagaimana mengaktifkan core secara tepat dapat menjadi fondasi sebelum meningkatkan kompleksitas latihan. Dalam bahasa simpel: form first, aesthetic later.
Popularitas Pilates di kalangan perempuan tampaknya bukan hasil dari satu faktor tunggal. Kombinasi manfaat kebugaran, karakter mind-body, format low-impact, fleksibilitas metode latihan, pengalaman studio, dan pengaruh social media membuat Pilates punya appeal yang luas. Fakta bahwa 74,7% responden dalam sebuah penelitian anggota pusat Pilates adalah perempuan memberi snapshot menarik tentang kuatnya representasi perempuan dalam komunitas tersebut.
Tren global semakin memperkuat gambaran itu, walaupun data ClassPass tidak secara khusus hanya berbicara tentang perempuan. Pilates menjadi workout yang paling banyak dipesan secara global di platform tersebut pada 2024 dan mempertahankan posisi itu selama dua tahun berturut-turut. Jadi, Pilates clearly sudah bergerak melampaui status workout niche dan masuk ke mainstream fitness culture.
Pada akhirnya, Pilates tidak perlu dipilih hanya karena sedang trending atau karena feed Instagram terlihat penuh dengan reformer class. Pilih Pilates kalau metode latihannya sesuai dengan tubuh, kebutuhan, tujuan, dan lifestyle kamu, lalu lakukan secara konsisten dengan teknik yang tepat. Karena dalam fitness, sustainable progress akan selalu lebih valuable daripada sekadar mengikuti hype.
Referensi
- The Effect of Servicescape and Human Service Quality on Customer Satisfaction and Repurchase Intention in Pilates Center. Studi terhadap 308 anggota pusat Pilates, dengan 230 responden perempuan (74,7%) dan 78 responden laki-laki (25,3%).
- Parveen, A., Kalra, S., & Jain, S. (2023). Effects of Pilates on health and well-being of women: a systematic review. Bulletin of Faculty of Physical Therapy, 28, Article 17.
- ClassPass. (2024). 2024 ClassPass Look Back Report. Pilates tercatat sebagai workout paling banyak dipesan secara global pada 2024.
- Effects of Pilates Programs on Body Composition, Flexibility, Muscular Strength, Balance, Functional Performance and Respiratory Function in Adult Women: A Systematic Review and Meta-Analysis. Sports, 2026, 14(9), 407.
- Is Pilates Better Than Other Exercises at Increasing Muscle Strength? A Systematic Review. Heliyon, 2022.
- Effects of Pilates-Based Exercise on Mental Health, Psychological Well-Being, and Quality of Life: A Systematic Review and Meta-Analysis. Sports, 2026.
- Pilates and Multiple Health Outcomes: An Umbrella Review. Kajian mengenai Pilates dan berbagai outcome kesehatan yang menekankan bahwa tingkat kepastian bukti masih bervariasi.